• Laman

  • Kategori

STRATEGI PENINGKATAN MUTU LAYANAN PROGRAM PENDIDIKAN NONFORMAL PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

Oleh: Drs. Yohanes Hani, M.Pd

  1. 1. Pengantar

Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 menetapkan bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat dan keluarga, yang juga setara dengan terminologi formal, nonformal, dan informal. Jalur pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Jalur pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Sedangkan pendidikan informal merupakan jalur pendidikan keluarga dan lingkungan.

Pendidikan merupakan proses sistematis untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia secara holistik. Proses pendidikan yang dilaksanakan secara sistematis tersebut, pada dasarnya diarahkan untuk mengaktualisasikan segala potensi manusia (seseorang)yang paling elementer yakni afektif, kognitif, dan psikomotorik hingga berkembang secara optimal. Dengan demikian, pendidikan seyogianya menjadi wahana strategis bagi upaya mengembangkan segenap potensi individu, sehingga cita-cita membangun manusia Indonesia seutuhnya dapat tercapai.

Pembangunan pendidikan nasional pada hakekatnya tidak dapat lepas dari perkembangan lingkungan strategis, baik nasional maupun global. Pendidikan harus dibangun dalam keterkaitannya secara fungsional dengan berbagai bidang kehidupan, yang masing-masing memiliki persoalan dan tantangan yang semakin kompleks.  Dalam dimensi sektoral tersebut, pembangunan pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada SDM dalam rangka menyiapkan tenaga kerja. Pembangunan pendidikan nasional harus dilihat dalam perspektif pembangunan manusia Indonesia seutuhnya. Dalam perspektif demikian, pendidikan harus lebih berperan dalam membangun seluruh potensi manusia agar menjadi subyek yang berkembang secara optimal dan bermanfaat bagi masyarakat dan pembangunan nasional. Potensi manusia Indonesia yang dikembangkan mencakup olah hati yang berkualitas dengan keimanan, ketakwaan dan akhlak mulia, olah rasa yang berkualitas dengan seni atau estetika, olah pikir yang berkualitas dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta potensi fisik yang berkualitas dengan olah raga yang berkualitas demi kebugaran fisik dan kesigapan serta keterampilan kinestetis.

Kenyataan menunjukkan, bahwa kondisi pendidikan kita masih jauh dari yang diharapkan.  Laporan UNDP menunjukkan bahwa Indeks Pembangunan Manusia Indonesia masih jauh dibawah negara-negara ASEAN. Dilaporkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) menunjukkan bahwa peringkat Indonesia yang mengalami penurunan sejak 1995, yaitu peringkat ke-104 pada tahun 1995, ke-109 pada tahun 2000, ke-110 pada tahun 2002,  ke 112 pada tahun 2003, dan sedikit membaik pada peringkat ke-111 pada tahun 2004 dan peringkat ke-110 pada tahun 2005.  Pada tahun 2006 dan 2007 mengalami kemajuan dengan IPM berada diurutan 108 dari 177 negara yang diukur. Indikator pengukuran IPM adalah: pengukuran perbandingan dari angka harapan hidup, melek huruf, pendidikan, dan standar hidup.  Bagaimana dengan daerah kita?

Kita ketahui bahwa pembangunan pendidikan adalah suatu usaha yang bertujuan untuk mewujudkan masyarakat yang berkualitas, maju, mandiri, dan modern. Pembangunan pendidikan merupakan bagian penting dari upaya menyeluruh dan sungguh-sungguh untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia. Keberhasilan dalam membangun pendidikan akan memberikan kontribusi besar pada pencapaian tujuan pembangunan nasional secara keseluruhan. Dalam konteks demikian, pembangunan pendidikan itu mencakup berbagai dimensi yang sangat luas: yang meliputi dimensi sosial, budaya, ekonomi, dan politik.

Dalam perspektif sosial, pendidikan akan melahirkan insan-insan terpelajar yang mempunyai peranan penting dalam proses perubahan sosial di dalam masyarakat. Pendidikan menjadi faktor determinan dalam mendorong percepatan mobilitas masyarakat, yang mengarah pada pembentukan formasi sosial baru.

Dalam perspektif budaya, pendidikan merupakan wahana penting dan medium yang efektif untuk mengajarkan norma, mensosialisasikan nilai, dan menanamkan etos kerja, serta mengembangkan nilai-nilai yang sesuai dengan tuntutan kemajuan di kalangan warga masyarakat.

Dalam perspektif ekonomi, pendidikan akan menghasilkan manusia-manusia yang andal untuk menjadi subyek penggerak pembangunan ekonomi nasional. Oleh karena itu, pendidikan harus mampu melahirkan lulusan-lulusan bermutu yang memiliki pengetahuan, menguasai teknologi, dan mempunyai keterampilan teknis dan kecakapan hidup  yang memadai. Pendidikan juga harus dapat menghasilkan tenaga-tenaga profesional yang memiliki kemampuan kewirausahaan, yang menjadi salah satu pilar utama aktivitas perekonomian nasional.

Dalam perspektif politik, pendidikan harus mampu mengembangkan kapasitas individu untuk menjadi warga negara yang baik (good citizens), yang memiliki kesadaran akan hak dan tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat , berbangsa, dan bernegara. Karena itu, pendidikan harus dapat melahirkan individu yang memiliki visi dan idealisme untuk membangun kekuatan bersama sebagai bangsa. Visi dan idealisme itu haruslah merujuk dan bersumber pada paham ideologi nasional, yang dianut oleh seluruh komponen bangsa. Dalam jangka panjang, pendidikan niscaya akan melahirkan lapisan masyarakat terpelajar yang kemudian membentuk critical mass, yang menjadi elemen pokok dalam upaya membangun masyarakat madani. Dengan demikian, pendidikan merupakan usaha besar untuk meletakkan landasan sosial yang kokoh bagi terciptanya masyarakat demokratis, yang bertumpu pada golongan masyarakat kelas menengah terdidik yang menjadi pilar utama civil society, yang menjadi salah satu tiang penyangga bagi upaya perwujudan pembangunan masyarakat demokratis.

Bagaimana kita menyikapi cita-cita pembangunan pendidikan nasional tersebut? Apa yang sudah kita lakukan bagi peningkatan potensi manusia di daerah kita? Bagaimanakah kita mewujudkan masyarakat yang berpendidikan?

Pembangunan pendidikan secara nasional menghadapi berbagai tantangan, terutama berkaitan dengan: 1) pemerataan dan perluasan akses; 2) peningkatan mutu, relevansi dan daya saing, 3) tata kelola, akuntabilitas, dan pencitraan publik. Seluruh mata rantai pembangunan pendidikan bersendikan pada ketiga isu pokok tersebut. Bagaimana upaya peningkatan mutu layanan program pendidikan nonformal dan program peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan?  Secara garis besar dapat dideskripsi melalui tulisan ini.

  1. 2. Pendidikan Nonformal

Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 menyatakan bahwa pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat (Pasal 26, ayat 1).

Secara nasional program ini diarahkan untuk memberikan pelayanan pendidikan kepada warga masyarakat yang belum sekolah, tidak pernah sekolah atau buta aksara, putus sekolah dan warga masyarakat lainnya yang kebutuhan pendidikannya tidak dapat terpenuhi melalui jalur pendidikan formal. Dengan demikian, pendidikan non-formal bertujuan untuk memberikan layanan pendidikan kepada semua warga masyarakat, agar memiliki kemampuan untuk mengembangkan potensi diri dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan vokasional, kecakapan hidup (life skills), serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional.

Dalam usaha mencapai tujuan tersebut, secara nasional berbagai program PNF yang dikembangkan terdiri atas; (1) Pendidikan Kesetaraan yang diarahkan pada anak usia Wajar Dikdas 9 tahun untuk mendukung suksesnya Wajar Dikdas beserta tindaklanjutnya (setara SMU), (2) Pendidikan Keaksaraan yang diarahkan pada pendidikan keaksaraan fungsional serta penurunan penduduk buta aksara usia 15 tahun ke atas secara signifikan pada akhir tahun 2009, (3) Peningkatan Pembinaan Kursus dan Pelatihan untuk memenuhi kebutuhan belajar masyarakat di berbagai bidang keterampilan yang dibutuhkan, (4) Pendidikan Kecakapan Hidup, yang dapat diintegrasikan dalam berbagai program pendidikan non-formal sebagai upaya agar peserta didik mampu hidup mandiri, (5) Pendidikan Pemberdayaan Perempuan yang diarahkan pada peningkatan kecakapan hidup dan pengarusutamaan gender di bidang pendidikan,  (6) Peningkatan Budaya Baca Masyarakat sebagai upaya untuk memelihara dan meningkatkan kemampuan keaksaraan peserta didik yang telah bebas buta aksara melalui penyediaan Taman Bacaan Masyarakat, dan (7) Memperkuat dan merevitalisasi kelembagaan unit pelaksana teknis pusat dan daerah (BP-PLSP, BPKB, dan SKB) sebagai tempat pengembangan model program PNF. Di samping hal-hal di atas, PNF juga akan melaksanakan berbagai komitmen dunia seperti Pendidikan Untuk Semua, pengarusutamaan gender, perawatan dan pendidikan pada anak-anak yang tergolong tidak beruntung.

  1. 3. Bagaimana Daerah Berperan?

Dalam konteks provinsi, Nusa Tenggara Timur telah melakukan banyak hal yang berkaitan dengan percepatan penuntasan wajar dikdas 9 tahun melalui Pendidikan Kesetaraan di berbagai Kabupaten, penuntasan buta aksara, program pendidikan  anak usia dini, serta pendidikan kecakapan hidup. Namun disadari bahwa upaya-upaya tersebut  belum menyentuh semua sasaran garapan. Misalnya sasaran PAUD mencapai 649.647 tahun 2006 baru sekitar 20% yang terlayani atau sekitar 129.925 orang; sasaran garapan putus sekolah SD misalnya sebanyak 52.020 orang, SMP 33.921 orang, dan SMA 14.512 orang dengan tingkat drop out 2%/tahun untuk SD dan 5%/tahun untuk SMP dan SMA (Pos Kupang, 24 Oktober 2007 dan Paparan Kadis P dan K Provinsi NTT). Demikian juga program peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan, dari 2.465 tutor kesetaraan baru sekitar  632 orang yang sudah mengikuti diklat kompetensi, dari 1.542 pendidik PAUD baru sekitar 660 orang yang mengikuti diklat kompetensi, dan dari sekitar 2.784 tutor KF baru sekitar 617 yang sudah mengikuti diklat kompetensi. Kenyataan ini membuktikan bahwa masih banyak yang perlu dilakukan. Kendala yang dihadapi selama upaya peningkatan mutu layanan baik program pendidikan nonformal maupun program pendingkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan adalah sebagai berikut:

a)      Terbatasnya serta distribusi jumlah pendidik dan tenaga kependidikan sehingga sulit menjangkau wilayah yang sangat luas

b)      Sasaran garapan yang sangat luas yang tidak diimbangi dengan penyediaan dana serta tenaga yang memadai

c)      Data garapan yang tidak valid sehingga sulit dalam perencanaan serta pelayanan program

d)      Kualifikasi dan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan yang tidak memadai

e)      Komitmen masyarakat dan pemerintah terhadap program pendidikan nonformal dan peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan yang belum maksimal

Untuk mempercepat penuntasan wajar dikdas 9 tahun, mengurangi angka buta aksara, serta mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran, terutama yang meliputi seluruh program pendidikan nonformal dan program peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan daerah perlu melakukan:

  1. Program Pendidikan Nonformal

1)      Pendidikan Kesetaraan

Pendidikan kesetaraan diarahkan pada anak usia Wajar Dikdas 9 tahun melalui Paket A setara SD, dan Paket B setara SMP, serta pengembangan pendidikan menengah melalui Paket C setara SMA. Pengembangan paket kesetaraan dilakukan melalui pembukaan kelompok-kelompok belajar pada sasaran yang terfokus, yaitu pada daerah yang APK-nya sangat rendah. Strategi yang perlu dilakukan , antara lain: (a) sosialisasi pendidikan kesetaraan melalui kampanye dan pertemuan forum kesetaraan, (b) perluasan akses pendidikan kesetaraan dengan pemberdayaan masyarakat melalui layanan home schooling dan kelas berjalan (mobile education services); (c) pembentukan berbagai kelompok belajar pendidikan kesetaraan pada kantong-kantong putus sekolah yang tinggi, (d) membentuk Sanggar Kegiatan Belajar sebagai lembaga pembuatan percontohan dan pengendalian mutu program pendidikan nonformal, (e) kerja sama dengan lembaga keagamaan untuk melaksanakan pendidikan kesetaraan.

2)      Keaksaraan Fungsional

Keaksaraan Fungsional merupakan kegiatan untuk meningkatkan intensifikasi akses perluasan dan kualitas pendidikan keaksaraan fungsional bagi penduduk buta aksara tanpa diskriminasi gender baik di perkotaan maupun di perdesaan dengan prioritas pada daerah yang menjadi kantong-kantong buta aksara tinggi.

Dalam rangka Penurunan Buta Aksara (PBA) dilakukan berbagai strategi antara lain: (a) program reguler PBA melalui UPT PNF  seperti SKB dan berbagai satuan PNF  lain, yaitu PKBM, kelompok belajar, dan satuan PNF sejenis, (b) pengembangan kerja sama dengan lembaga/organisasi keagamaan, organisasi kemasyarakatan, organisasi lain yang dapat menjangkau masyarakat, dan pemberantasan buta aksara melalui jalur pemerintahan daerah.

3)      Pendidikan Anak Usia Dini

Program ini bertujuan agar semua anak usia dini (usia 0-6 tahun), baik laki-laki maupun perempuan memiliki kesempatan tumbuh dan berkembang optimal sesuai dengan potensi yang dimilikinya, sesuai tahap-tahap perkembangan atau tingkat usia mereka. Pendidikan anak usia dini (PAUD) juga merupakan pendidikan persiapan untuk mengikuti jenjang pendidikan sekolah dasar. Secara lebih spesifik, program ini bertujuan untuk meningkatkan akses dan mutu pelayanan pendidikan melalui jalur formal seperti Taman Kanak-Kanak (TK), Raudhatul Athfal (RA) dan bentuk lain yang sederajat, serta jalur pendidikan non-formal berbentuk Kelompok Bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA) atau bentuk lain yang sederajat, dan jalur informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan.

PAUD bertujuan menjaga dan memperhatikan kelangsungan hidup serta memfasilitasi tumbuh berkembang anak usia dini melelui pengasuhan, stimulasi pendidikan, stimulasi kecerdasan, serta layanan gizi dan kesehatan dalam rangka melejitkan perkembangan kecerdasan jamak.

Strategi yang perlu dilakukan adalah: (a) sosialisasi pendidikan anak usia dini ke semua lapisan dan kesempatan, (b) perluasan akses pendidikan anak usia dini dengan pemberdayaan masyarakat melalui taman bermain, bina keluarga andiri, kelompok bermain; (c) pembentukan berbagai kelompok belajar pendidikan anak usia dini pada kantong-kantong yang jumlah anak usia dini tinggi, (d) membentuk sanggar kegiatan belajar sebagai lembaga pembuatan percontohan dan pengendalian mutu program pendidikan nonformal, (e) kerja sama dengan lembaga keagamaan, swadaya masyarakat  untuk melaksanakan pendidikan anak usia dini.

4)      Pendidikan Kecakapan Hidup

Program ini diperuntukkan bagi masyarakat miskin dan pengangguran dengan rentang usia 15  ke atas. Pembinaan pendidikan kecakapan hidup dan kursus, bertujuan untuk mengembangkan keterampilan, kecakapan, dan profesionalitas warga belajar untuk bekerja dan/atau berusaha secara mandiri, serta mengembangkan kapasitas kelembagaan kursus dan pelatihan agar memiliki daya saing internasional. Strategi yang dilakukan antara lain: (a) Perluasan kursus yang berorientasi pada kecakapan hidup yang mencakup sasaran sektoral dan dalam tiga spektrum, yaitu: perdesaan, perkotaan, dan peningkatan kecakapan bagi penduduk bekerja melalui program pengembangan kursus dan pelatihan.

5)      Pemberdayaan Perempuan

Program pemberdayaan perempuan umumnya untuk meningkatkan peran serta perempuan dalam ikut membangun daerah. Kegiatan yang dilakukan umumnya bersifat kelompok kerja, kelompok usaha, kelompok belajar usaha yang berbasis perempuan.

  1. Program Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan

Daerah sangat berperan dalam usaha meningkatkan kompetensi dan kualifikasi pendidik dan tenaga kependidikan pendidikan nonformal. Meskipun secara nasional telah ada program untuk ini, namun daerah tetap berperan mengoptimalkan potensi PTK-PNF di daerah melalui berbagai program peningkatan mutu. Pertanyannya adalah: Berapa jumlah PTK-PNF yang melayani garapan pendidikan nonformal (Misalnya: Penilik, TLD, Pamong Belajar, FDI) ? Bagaimana kualifikasi dan kompetensi yang dimilikinya? Sebagai pengambil kebijakan di tingkat daerah, pemerintah daerah perlu melakukan hal-hal sebagai berikut:

1)      Pengembangan sistem perencanaan berdasarkan kebutuhan dan persediaan pendidik dan tenaga kependidikan di daerah.

2)      Pengembangan sistem dan mekanisme rekrutmen dan penempatan pendidik dan tenaga kependidikan yang merata secara geografis, tepat jumlah, tepat kualifikasi/keahlian, dan gender

3)      Peningkatan jumlah pendidik dan tenaga kependidikan yang masih kurang, seperti penilik, pamong belajar, dan pendidik PAUD, TLD, tutor sesuai dengan sasaran garapan

4)      Untuk mendukung tugas penilik, diperlukan juga tenaga lapangan dikmas (TLD), dengan rasio satu TLD setiap lima desa.

5)      Selanjutnya untuk meningkatkan jangkauan pelayanan PNF secara bertahap dibuka sanggar kegiatan belajar dan penambahan jumlah pamong belajar dengan minimal 5 orang,  sehingga mencapai standar nasional pendidikan.

6)      Pengembangan sistem dan dan peningkatan kualifikasi dan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan  melalui: pemetaan kompetensi secara periodik, pendidikan berkelanjutan untuk mencapai standar kompetensi yang ditunjukkan oleh hasil uji kompetensi, penghitungan angka kredit sebagai tenaga fungsional

7)      Peningkatan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan melalui pelatihan kompetensi dan magang

8)      Penyusunan rencana pengembangan mutu pendidik dan tenaga kependidikan

9)      Sosialisasi dan komunikasi kebijakan dan program peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan

  1. 4. Alternatif Pemecahan

Untuk mencapai mutu layanan pendidikan nonformal yang maksimal maka perlu dilakukan ha-hal sebagai berikut:

  1. Perlunya peningkatan sosialisasi dan promosi melalui berbagai media mengenai pentingnya PNF dalam memberikan pelayanan pendidikan kepada masyarakat dari usia dini hingga usia lanjut, yang disertai menu-menu program yang dapat menggugah, menarik, dan membangkitkan semangat untuk belajar dan/atau berperan dalam penyelenggaraan PNF
  2. Perlu segara melakukan pendataan terhadap sasaran garapan, agar perencanaan program benar-benar tepat sasaran dan bermanfaat.
  3. Perlu melakukan pemetaan prioritas garapan (putus sekolah, sasaran PAUD, buta aksara, masyarakat miskin dan pengangguran), sehingga memudahkan pendampingan serta pemerolehan layanan pendidikan  .
  4. Perlu segera membentuk sanggar kegiatan belajar beserta staf (tata usaha dan pamong belajar) sebagai UPTD Dinas yang berfungsi sebagai lembaga penjamin mutu dan pembuatan percontohan program pendidikan nonformal di tingkat kabupaten. Melalui Sanggar Kegiatan Belajar diharapkan dana pembantuan Pendidikan Nonformal dan Informal (PNFI) dan Direktorat Pendidik dan Tenaga Kependidikan  Pendidikan  Nonformal (PTK-PNF) dapat tersalurkan.
  5. Perlu direncanakan program peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan melalui kegiatan: studi lanjut, pendidikan dan latihan, magang, dan kursus. Dengan memiliki kualifikasi dan kompetensi yang dimiliki oleh PTK, program pendidikan nonformal makin berkualitas dan bermanfaat bagi peningkatan martabat masyarakat. Untuk program serupa melalui Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Jakarta sudah mulai dirintis, namun sangat terbatas.
  6. Perlu melakukan koordinasi dan kerja sama dengan lembaga agama, lembaga swadaya masyarakat untuk membantu pelaksanaan berbagai program pendidikan nonformal.
  7. Perlu memberikan kesempatan dan ruang bagi terbentuknya Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM, kelompok bermain, kelompok belajar, lembaga kursus  yang dibentuk baik oleh perorangan, kelompok maupun yayasan/lembaga.

Sumber bacaan

  1. 1. Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
  2. 2. Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
  3. 3. Surat Kabar Harian Pos Kupang, 24 Oktober 2007
  4. 4. Surat Kabar Harian Timor Ekspress, 5 September 2006
  5. 5. Paparan Kepala Dinas P dan K Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2006
  6. 6. Renstra Pendidikan Nasional 2004 – 2009
  7. 7. Renstra PMPTK Depdiknas 2004 – 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: